Bagaimana ini, dulu disuruh menikahi sekarang disuruh memilih saya mengeluarkan Hajar atau Sarah yang keluar
Nabi Ibrahim pernah berada pada posisi dilematis ketika Sarah, istri pertamanya meminta Ibrahim memilih Hajar atau dirinya (Sarah).
Padahal Sarah sendiri yang meminta Ibrahim menikahi Hajar dengan tulus dan ikhlas dengan alasan agar Ibrahim memiliki keturunan mengingat Sarah divonis mandul.
Sekadar gambaran, Sarah adalah wanita cantik dan solehah sedangkan Hajar menurut sejumlah referensi ada dua pendapat, ada yang mengatakan Hajar anak seorang budak dan sebagiannya lagi mengatakan bahwa Hajar adalah puteri bangsawan yang kemudian menjadi tahanan karena Ayahnya yang merupakan raja kalah dalam perang.
"Bagaimana ini, dulu disuruh menikahi sekarang disuruh memilih saya mengeluarkan Hajar atau Sarah yang keluar," gumam Ibrahim dalam hati karena bagaimana pun juga dia masih manusia.
Latarbelakang kecemburuan Sarah dimulai ketika Hajar melahirkan seorang putera yang kemudian kita kenal Nabi Ismail.
Kalau dulu sebelum kehadiran Ismail, Ibrahim memberikan porsi perhatian hanya kepada dua wanita, Sarah dan Hajar. Namun ketika Ismail hadir ditengah mereka maka perhatian Ibrahim lebih banyak ke Ismail dan Hajar.
Dari sinilah api cemburu Sarah muncul sehingga ia memberikan pilihan kepada Ibrahim. Cemburu menurut Psikologi adalah keadaan emosi seseorang yang merasa terancam kasih sayang dan perhatian dari seseorang.
Pada sisi lain, Sarah juga seorang perempuan maka perasaan mendominasi dirinya. Singkat cerita akhirnya perintah Allah datang agar Ibrahim membawa Hajar dan Ismail kecil ke sebuah lembah padang pasir yang tanpa kehidupan, gersang dan tandus.
Jangankan pasar tradisional, sekadar air pun tidak ada. Awalnya Hajar tidak tahu bahwa dirinya akan diajak Ibrahim ke lembah mati itu. Itulah mengapa Hajar hanya membawa bekal seadanya.
Ketika sampai di lembah itu, Hajar bengong dan bertanya ke Ibrahim. "Wahai Ibrahim, disinikah akan kamu tinggalkan saya dan anak kecilmu. Tanpa kehidupan, tandus dan gersang," tanya Hajar ke Ibrahim.
"Iya Hajar," jawab Ibrahim. Sebetulnya Ibrahim juga tidak tega meninggalkan Hajar dan Ismail di gurun pasir tanpa kehidupan.
"Apakah ini perintah Allah wahai Ibrahim, suamiku?" Tanya Hajar.
"Iya , Allah memerintahkan saya membawa kalian berdua ke tempat ini," jawab Ibrahim.
"Kalau ini perintah Allah, ga apa apa. Silahkan tinggalkan kami berdua disini. Karena masih ada Allah, Allah bersama kami. Ga mungkin Allah membiarkan kami," kata Hajar.
Ibrahim pun akhirnya meninggalkan Hajar dengan membelakangi Hajar karena kalau dia melihat maka akan menangis karena tidak tega.
"Assalamualaikum Hajar, istriku dan anakku," salam Ibrahim dan meninggalkan Hajar dan Ismail di gurun pasir tanpa kehidupan.
Setelah Ibrahim tak terlihat tinggalah Hajar dan Ismail berdua di tengah gurun pasir tanpa kehidupan, tanpa air dan pepohonan.
Singkat cerita, bekal Hajar habis dan Ismail mulai menangis. Hajar makin bingung lalu bolak blaik naik ke bukit hingga tujuh kali.
Inilah yang kemudian menjadi salah satu ritual haji umat Muslim untuk mengenang perjuangan Hajar.
Sampai akhirnya Allah turunkan mukjizat dari hentakan kaki Ismail yang keluar air jernih. Hajar pun sumringah dan mengatakan "Zam, Zam, artinya kumpul kumpul.
Inilah air zam-zam yang ada sampai sekarang. Selang beberapa hari tempat yang semula sepi, tak ada kehidupan menjadi ramai karena banyak musafir datang ke tempat ini.
Banyak hikmah dari sejarah keluarga Ibrahim, diantaranya kita mesti yakin bahwa Allah tidak akan memberikan beban melebihi batas kemampuan manusia.
Jadi, ketika kita sekarang lagi pada fase perjuangan atau penuh ujian, tenang aja. Laa Tahzan, jangan bersedih Allah pasti ngasih jalan keluar terbaik versi Allah bukan menurut kita.
Hikmah kedua yang sabar dan jangan kehilangan harapan . Kita boleh kehilangan sesuatu tapi tidak boleh kehilangan harapan. Harapanlah yang akan membuat hidup kita tetap hidup apapun keadaanya.
Hikmah ketiga adalah bahwa hakikatnya semua perempuan sama, cemburuan meski sebelumnya menerima tapi hadapilah semua problematika rumah tangga. dengan ketenangan dan kesabaran maka ada jalan keluar terbaik.
Hikmah keempat, sebagai seorang Ibu tidak boleh patah arah meski melelahkan dalam rumah tangga dan mengurus anak. Belajarlah dari Hajar betapa lelahnya dia tapi dia lakoni episode kehidupan dengan sabar dan tenang serta terus berusaha sampai kita benar benar mentok dan disituah pertolongan Allah akan datang dari jalan tidak disangka sangka.
Tentu saja masih banyak kisah inspiratif dan menggugah dari keluarga Ibrahim.
Penulis,
Karnoto
Ceramah Ustadzah Fathiyah,Lc
Social Footer